MAKASSAR, umi.ac.id — Jalan dan jembatan bukan sekadar bentangan beton dan aspal. Di baliknya ada perencanaan, pengawasan, standar keselamatan, kualitas konstruksi, hingga orang-orang yang memastikan semuanya berjalan sesuai ketentuan.
Di bidang itulah Dr. Ir. Ali Amal, ST, M.Si, IPU menapaki perjalanan profesionalnya.
Alumni Universitas Muslim Indonesia (UMI) ini menyelesaikan pendidikan Strata-1 Teknik Sipil di UMI pada 1991. Pendidikan tersebut menjadi salah satu fondasi perjalanan panjangnya di bidang konstruksi, jalan, jembatan, dan transportasi.
Ali Amal kemudian melanjutkan pendidikan Magister Perkotaan dan Transportasi di Universitas Hasanuddin pada 2003. Pada 2012, ia menyelesaikan pendidikan doktor Teknik Sipil di Universitas Tarumanagara.
Tidak berhenti di jenjang akademik, juga karier sebagai birokrasi di kementerian Pekerjaan Umum (PU) dengan berbagai pendidikan dan pelatihan telah dilalui. Pada 2023 ia juga menyelesaikan Program Profesi Insinyur Teknik Sipil di Universitas Hasanuddin dengan IPK 4,00, sabagai syarat untuk mendapatkan Insinyur Profesional Utama (IPU).
Dari Lapangan, Jalan, hingga Jembatan serta pembina jasa dan keselamatan konstruksi.
Karier profesional Ali Amal telah dimulai sejak pertengahan 1980-an.
Pada 1985–1987, ia terlibat dalam pekerjaan pembangunan Gedung SMEA Negeri Palu dan Workshop Kawatuna di Palu sebagai pengawas lapangan.
Pengalamannya kemudian berkembang ke pekerjaan infrastruktur yang lebih kompleks. Ia pernah menjadi Quality Engineer pada proyek jalan Bendungan Bakaru Hydro Electric Power di Pinrang, serta Senior Quality Material Engineer pada proyek peningkatan Jalan Paket 21 Enrekang–Makale ADB-XI.
Memasuki lingkungan pemerintahan, Ali Amal berkarier di bidang pekerjaan umum di Direktorat Jenderal Bina marga dan di Direktorat Jenderal Jasa Konstruksi.
Ia pernah menjadi Asisten Teknik Pengawasan P3T-Nas pada Ditjen Bina Marga. Selanjutnya, ia dipercaya sebagai Asisten Perencanaan Jalan dan Jembatan Provinsi dibawah naungan Kanwil Departemen Pekerjaan Umum Provinsi Sulawesi Selatan.
Pengalaman tersebut kemudian membawanya pada tanggung jawab yang semakin besar.
Pada 2000–2001, ia tercatat sebagai pemimpin proyek peningkatan Jalan Ruas KM 260–Watampone. Setelah itu, selama 2002–2005, ia menjadi Pimpinan Bagian Proyek pembangunan Jalan Maros–Ujung Lamuru–Watampone (BLN-IRTP)
Pada 2005–2010, ia kembali dipercaya sebagai Pimpinan Bagian Proyek Sinjai–Arasoe–Watampone–Sengkang–Impa Impa–Tarumpakae. Proyek tersebut dicatat memiliki estimasi nilai Rp120 miliar (APBN & BLN-EINRIP)
Jejak ini memperlihatkan bagaimana keilmuan teknik sipil yang diperoleh sejak bangku kuliah kemudian diterapkan dalam berbagai pekerjaan infrastruktur.
Memperluas Peran dari Infrastruktur ke Keselamatan Konstruksi.
Perjalanan Ali Amal tidak hanya berkaitan dengan pembangunan fisik.
Ia juga mendapat tanggung jawab pada bidang keselamatan jalan.
Pada 2013–2015, ia tercatat sebagai Kepala Seksi Keselamatan Jalan, Subdit Teknik Lingkungan dan Keselamatan Jalan, Direktorat Bina Teknik Kementerian PUPR.
Sebelumnya dan sesudahnya, ia juga terlibat sebagai pengarah, adviser, maupun narasumber ahli dalam berbagai kegiatan terkait keselamatan jalan, investigasi lokasi rawan kecelakaan, laik fungsi jalan, serta pelatihan keselamatan jalan.
Peran tersebut menunjukkan bahwa pekerjaan di bidang jalan tidak berhenti pada bagaimana sebuah jalan dibangun.
Ada aspek keselamatan yang harus diperhatikan.
Ada standar yang harus dipenuhi.
Ada kompetensi tenaga profesional yang harus terus dikembangkan.
Dari Pelaksana Menjadi Pengembang Kompetensi
Perjalanan profesional Ali Amal kemudian bergerak semakin jauh ke bidang pembinaan jasa konstruksi.
Pada 2015–2017, ia menjabat Kepala Seksi Bimbingan Teknis Subdirektorat Standar dan Pedoman Direktorat Jembatan Ditjen Bina Marga Kementerian PUPR.
Selanjutnya, pada 2017–2021, ia tercatat sebagai Pejabat Pembina Jasa Konstruksi Madya pada Direktorat Bina Jasa Konstruksi Kementerian PUPR.
Dalam periode tersebut, aktivitas profesionalnya juga banyak bersentuhan dengan peningkatan kompetensi dan penerapan standar konstruksi.
Ia juga banyak terlibat sebagai pengarah, adviser, dan narasumber ahli dalam berbagai kegiatan bimbingan teknis dan pelatihan, antara lain keselamatan dan kesehatan kerja konstruksi, laboratorium beton dan aspal, perencanaan teknis jembatan, sistem manajemen mutu, serta sistem manajemen keselamatan konstruksi.
Dengan demikian, kontribusinya tidak hanya berada pada proyek fisik. Pengalamannya juga digunakan dalam proses pembinaan dan penguatan kompetensi sumber daya manusia bidang konstruksi.
Dari UMI, Menjadi Insinyur Profesional Utama
Perjalanan akademik dan profesional tersebut kemudian membawanya pada pengakuan kompetensi profesional. Ali Amal tercatat memiliki sertifikasi Insinyur Profesional Utama (IPU). Ia juga memiliki kompetensi Ahli Utama Teknik Jalan, Ahli Utama Teknik Jembatan, serta kompetensi asesmen/uji kompetensi LSP - Infrastruktur Jalan dan Jembatan Indonesia (IJJI).
Ia juga tercatat sebagai anggota Persatuan Insinyur Indonesia (PII) serta Himpunan Pengembangan Jalan Indonesia (HPJI), dengan bidang kegiatan yang berkaitan dengan jalan, jembatan dan terowongan.
Atas perjalanan pengabdiannya, Ali Amal menerima antara lain Satyalancana Karya Satya X Tahun pada 2014 dan Satyalancana Karya Satya XX Tahun pada 2017 serta penghargaan dari Universitas Tarumanagara dengan kelulusan Indeks Prestasi Komulatif 3,9.
Pada akhirnya, perjalanan Ali Amal dapat dibaca sebagai perjalanan seorang sarjana teknik sipil yang terus memperluas ruang pengabdiannya.
Dimulai dari bangku Teknik Sipil UMI.
Berlanjut ke pekerjaan lapangan.
Masuk ke pengelolaan proyek jalan dan jembatan.
Kemudian bergerak ke keselamatan jalan, standar teknis, pembinaan jasa konstruksi, hingga pengembangan kompetensi profesional.
Dampaknya bukan hanya pada satu proyek.
Pengalaman tersebut tersebar dalam pekerjaan jalan dan jembatan di berbagai daerah, sekaligus dalam berbagai kegiatan pembinaan dan peningkatan kompetensi insan konstruksi.
Dari kampus, ilmunya dibawa ke lapangan.
Dari lapangan, pengalaman itu berkembang menjadi keahlian.
Dan dari keahlian, lahir kontribusi yang lebih luas bagi dunia konstruksi Indonesia.
Inilah salah satu makna “Dari Kampus, Menjadi Dampak”.




