Takalar, 23 September 2025 – Suasana berbeda tampak di Aula Desa Sampulungan, Kecamatan Galesong Utara, Kabupaten Takalar. Puluhan warga berkumpul with penuh antusias, menyimak outreach sekaligus practice langsung in Training Pembuatan Ecobrick for Infrastruktur Ringan which was staged by Faculty of Engineering University Muslim Indonesia (UMI).
Program this is section from Community service Berbasis Masyarakat Skema Kemendikbudristek-Saintek 2025 which digagas for menjawab tantangan pengelolaan sampah plastik di kawasan pesisir. Through pendekatan multidisiplin, tim community service Faculty of Engineering UMI membawa kontribusi nyata from bidang Civil Engineering, Architecture, and kesehatan lingkungan.
Chairperson tim community service, Ir. Rizki Saraswati, S.T., M.T., explains bahwa program this not hanya sebatas training teknis, melainkan upaya pemberdayaan masyarakat secara menyeluruh.
“Program this we adakan with peningkatan kapasitas and pemberdayaan masyarakat di Desa Sampulungan with pendekatan multidisiplin which we bawa from bidang Civil Engineering, Architecture, and kesehatan lingkungan. Harapannya, activity this can becomes step awal masyarakat in mengubah kebiasaan, mengelola sampah with good, sekaligus menciptakan nilai ekonomi new,” ungkapnya.

Tim community service this also diperkuat by Ir. Arinda Wahyuni, S.T., M.Ars. (Lecturer Architecture UMI) and Sartika Fathir Rahman, S.K.M., M.K.L. (Lecturer Architecture UMI), and dua students Murthada Asdaul Usud Syam dan Rinaldi (Students Civil Engineering UMI). Kehadiran students in program this not hanya provides pengalaman lapangan, but also memperlihatkan keterlibatan generasi muda teknik in presents solusi nyata di masyarakat.
Rangkaian Activity which Menyentuh Masyarakat#
Training this begins with outreach mengenai dampak pencemaran sampah plastik and bahaya mikroplastik bagi kesehatan manusia and keberlanjutan ekosistem laut. After that, masyarakat diajak membentuk kelompok pengelola bank sampah so that memiliki Organisational Structure which jelas in mengelola limbah di lingkungannya.
Not berhenti di situ, participants mendapatkan practice langsung mulai from pengelolaan bank sampah, pembuatan ecobrick, until penggunaan mesin pencacah plastik which diserahkan langsung by tim UMI sebagai technology tepat guna.
Salah seorang participants, ibu rumah tangga which sehari-hari bergantung at result laut, mengaku very terbantu with activity this.
“Dulu sampah plastik we buang saja ke laut or ke belakang rumah. Sekarang we belajar kalau sampah can jadi sesuatu which berguna. Bahkan can dibuat jadi batu bata ecobrick. We senang because pengetahuan this can menambah wawasan, also can membantu perekonomian keluarga,” tuturnya with penuh semangat.
Antusiasme High, Harapan Large#
Activity this not hanya mengubah cara pandang masyarakat towards sampah, but also membuka peluang ekonomi new. Through bank sampah, masyarakat can menabung from result pengumpulan and pemilahan sampah. Sedangkan ecobrick can dimanfaatkan for builds infrastruktur ringan which ramah lingkungan, seperti kursi, meja, or dinding sederhana.
Seorang tokoh masyarakat Desa Sampulungan also conveys harapannya so that activity this can takes place secara berkesinambungan.
“We berharap lecturer and students UMI not berhenti until di sini. Kalau can datang terus memberi mentoring, because ilmu this not hanya bermanfaat sesaat, but jangka panjang bagi lingkungan we,” ujarnya.
Wujud Nyata Tri Dharma Higher education institution#
Through activity this, Faculty of Engineering UMI sekali lagi membuktikan peran strategisnya in menjalankan Tri Dharma Higher education institution, khususnya in bidang community service. Sinergi lecturer, students, and masyarakat becomes bukti nyata bahwa ilmu pengetahuan must memberi manfaat langsung and can dirasakan by masyarakat luas.

Program training ecobrick this is expected becomes embrio bagi lahirnya gerakan masyarakat pesisir which more peduli lingkungan, mandiri in pengelolaan sampah, and memiliki creativity for mengubah limbah becomes produk which bernilai guna.
Thus, Desa Sampulungan kini not hanya dikenal sebagai desa pesisir with keindahan lautnya, but also sebagai pionir in pengelolaan sampah berbasis komunitas which ramah lingkungan and berdaya ekonomi.




